Konflik Timur Tengah Ganggu Jalur Kapal Dagang, Eksportir Terancam Rugi hingga 80%

Ekonom menilai para eksportir berpotensi mengalami kerugian besar, bahkan margin keuntungannya bisa turun antara 44% hingga 80%. Hal ini dipicu oleh ditutupnya jalur udara dan laut di kawasan Timur Tengah akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa keputusan kapal-kapal untuk memutar lewat Tanjung Harapan bukan sekadar mengganti rute perjalanan.

Perubahan ini berdampak besar pada struktur biaya perdagangan. Jarak tempuh jadi lebih jauh, waktu pengiriman lebih lama, dan biaya logistik ikut meningkat.

Akibatnya, dalam perhitungan kasar, margin keuntungan eksportir bisa tergerus hingga lebih dari 80% dari proyeksi laba awal.

Hal itu bukan tanpa sebab. Rute yang lebih panjang berarti waktu tempuh bertambah, konsumsi bahan bakar naik, biaya sewa kapal meningkat, dan premi asuransi ikut terdorong. Pada akhirnya, tarif pengiriman melonjak. Bagi eksportir Indonesia, terutama yang menjual komoditas seperti CPO, karet, atau tekstil ke Eropa, kenaikan ongkos ini langsung memangkas margin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *