Konflik Timur Tengah Ganggu Jalur Kapal Dagang, Eksportir Terancam Rugi hingga 80%

Ekonom menilai para eksportir berpotensi mengalami kerugian besar, bahkan margin keuntungannya bisa turun antara 44% hingga 80%. Hal ini dipicu oleh ditutupnya jalur udara dan laut di kawasan Timur Tengah akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran. Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa keputusan kapal-kapal untuk memutar lewat Tanjung Harapan bukan sekadar mengganti rute perjalanan. Perubahan ini berdampak besar pada struktur biaya perdagangan. Jarak tempuh jadi lebih jauh, waktu pengiriman lebih lama, dan biaya logistik ikut meningkat. Akibatnya, dalam perhitungan kasar, margin keuntungan eksportir bisa tergerus hingga lebih dari 80% dari proyeksi laba awal. Hal itu bukan tanpa sebab. Rute yang lebih panjang berarti waktu tempuh bertambah, konsumsi bahan bakar naik, biaya sewa kapal meningkat, dan premi asuransi ikut terdorong. Pada akhirnya, tarif pengiriman melonjak. Bagi eksportir Indonesia, terutama yang menjual komoditas seperti CPO, karet, atau tekstil ke Eropa, kenaikan ongkos ini langsung memangkas margin.

Para pelaku logistik menghadapi sejumlah tantangan menjelang lebaran

DIlansir dari Ekonomi.bisnis.com, Para pelaku logistik menghadapi sejumlah tantangan dan kekhawatiran menjelang masa pembatasan angkutan barang, yang berlangsung sejak 13 Maret hingga 29 Maret 2026 atau sekitar 17 hari.  Ketua Bidang Perhubungan dan Logistik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Carmelita Hartoto menuturkan, lonjakan pengiriman barang sudah terjadi di sejumlah pelabuhan di Indonesia sebelum masa pembatasan berlaku. Terlebih, pada tahun ini perayaan Imlek, Nyepi, dan Lebaran berlangsung sangat berdekatan. Hal ini membuat sejumlah pemilik barang memilih untuk menahan barang di dalam kontainer, kendati pengiriman belum dapat dilakukan. Sementara itu, pengadaan kontainer di Indonesia juga tidak mudah karena biaya pembuatannya mahal, sementara impor dikenakan pajak. Oleh karena itu, potensi perlambatan perputaran kontainer menjadi tantangan bagi para pengusaha. Tantangan belum berhenti di penumpukan kontainer dan keterbatasan kontainer ini. kondisi ini berpotensi membebani biaya logistik karena terjadi bersamaan dengan eskalasi tensi geopolitik antara Iran dengan AS—Israel.